Peluang Cinta




Karya : Nirmalasari Dynar

Diperlukan definisi panjang untuk menjelaskan bagaimana perasaanku ini…
Terkadang ia dipenuhi oleh rindu yang terintegralkan..
Tapi kadang ia dipenuhi oleh sakit yang terdiferensialkan…
Kebutuhannya adalah pengertian yang definit positif darimu…

Bukan sekedar kepedulian yang abstrak..…
Semuanya ingin menjadi bilangan real…
Selalu mencakup bagian terkecil dari sisi kurva polinom kehidupanmu..
Bukan soal kalkulus yang perlu pemahahaman menyeluruh…

Cukup terima dan coba jalani ia seperti sebuah peluang yg akan menguntungkan…
Karena porsinya telah cukup menjembatani kehausan dalam pikirmu..
Cintanya akan selalu setia seperti komposisi F ke G melalui O (FoG)….
Cintanya tak akan pernah seperti limit yang terbatas dan membingungkan..



Cobalah…..
Coba pelajari peluang itu dan mengerti…
Disana tersimpan berjuta tanda kasih sayang yang terfaktorialkan…
Yang singkat tapi perlu kecerdasan dalam menghitungnya…

Percayalah terkadang pelajaran peluang itu terlihat mudah,
Tapi persentase dalam mengahadapinya akan menjadikanmu gagal dalam mencapai kelulusan,
Jika tak kau pahami benar maksudnya…
Setelah kau pahami maka peluang itu berubah menjadi menjadi fraction (pecahan) hatimu..

Inilah Peluang Cintaku Untukmu…


Jihad dari perspektif perang dan damai



A. Pengertian Jihad

Jihad berasal dari akar kata jahada, berarti bersungguh-sungguh. Dari akar kata ini membentuk tiga kata kunci, yakni jihad (perjuangan dengan fisik), ijtihad (perjuangan dengan nalar), dan mujahadah (perjuangan dengan kekuatan rohani).[1]
Jihad harus merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan kekuatan ijtihad dan mujahadah. Melihat arti dari ketiga kata diatas , bahwa jihad adalah perjuangan yang di tujukan oleh diri sendiri untuk mendekatkan hubungan diri dengan Allah swt, melawan hawa nafsu, melawan setan untuk tidak mentaatinya, melawan orang-orang kafir dengan menggunakan argumentasi tentang keyakinan dan keimanan menggunakan fisik, nalar dan kekuatan rohani. Jihad bertujuan untuk mempertahankan kehidupan manusia yang bermartabat, bukannya menyengsarakan, apalagi menyebabkan kematian orang-orang yang tak berdosa. Sinergi antara jihad, ijtihad, dan mujahadah inilah yang selalu dicontohkan Rasulullah.

1. Pengertian Perang
Perang adalah sebuah aksi fisik dan non fisik (dalam arti sempit, adalah kondisi permusuhan dengan menggunakan kekerasan) antara dua atau lebih kelompok manusiauntuk melakukan dominasi di wilayah yang dipertentangkan.[2] Namun begitu, al-Quran juga menyatakan bahwa :

كتب عليكم القتال وهو كره لكم وعسى أن تكرهوا شيئا وهو خيرلكم وعسى أن تحبوا شيئا وهو شر لكم والله يعلم و أنتم لاتعلمون

“Boleh jadi dibalik sesuatu yang tidak disukai itu terdapat kebaikan yang tidak diketahui manusia.Sebaliknya, boleh jadi pula sesuatu yang disenangi manusia ternyata membawa petaka bagi hidup .”[3]
Karena itu peperangan hanya dibolehkan dalam situasi yang sangat terpaksa. Hal ini menunjukkkan, bahwa Islam sesuai dengan namanya adalah agama perdamaian dan berusaha membawa manusia kedalam kedamaian, kesejahteraan kedalam rahmatnya. Kedamaian itu tergantung kepada kesediaan manusia untuk tunduk dan taat kepada ajaran-ajarannya yang tertuang kedalam Islam. Siapa saja yang menghadap kepadanya dan mengharap petunjuknya lalu mengikuti perintahNya pasti akan diberkatiNya dengan kedamaian, kebahagiaan dan kesempurnaan.

2. Pengertian Damai
Damai memiliki banyak arti: Perdamaian dapat menunjuk ke persetujuan mengakhiri sebuah perang, atau ketiadaan perang, atau ke sebuah periode di mana sebuah angkatan bersenjata tidak memerangi musuh.[4]
Jadi, damai dapat juga berarti sebuah keadaan tenang, menggambarkan keadaan emosi dalam diri .Konsepsi damai setiap orang berbeda sesuai dengan budaya dan lingkungan.Orang dengan budaya berbeda kadang-kadang tidak setuju dengan arti dari kata tersebut, dan juga orang dalam suatu budaya tertentu.

3. Pengertian Jihad dalam Perang dan Damai
Jihad dalam bentuk perang dilaksanakan jika terjadi fitnah yang membahayakan eksistensi umat (antara lain berupa serangan-serangan dari luar). Jihad tidak bisa dilaksanakan kepada orang-orang yang tunduk kepada aturan Allah atau mengadakan perjanjian damai maupun ketaatan.[5]
Umat Islam baru di izinkan berperang jika kaum yang diajak masuk dalam Islam memerangi mereka.Jihad dalam bentuk perang tidak berlaku apabila dihadapkan kepada orang-orang mukmin dan orang-orang yang bersedia diajak berdamai. Hal ini menunjukkan bahwa islam menghendaki perang dalam rangka membimbing manusia sekaligus membasmi kejahatan dan bukan untuk membantai atau memusnahkan. Kontekstual jihad dalam perang harus disesuaikan dengan keadaan yang berlaku, maka dari itu kita sebagai umat Islam harus memahami arti dalam jihad itu sendiri agar tak salah ambil keputusan.
Ibnu Taimiyah menyebutkan tiga syarat negara boleh melakukan perang:
 Demi mempertahankan diri dari agresi lawan
 Demi memperbaiki kedzaliman
 Demi menggagalkan tindakan subversive yang bermaksud untuk memecah belah umat islam dan menebrakan fitnah dikalangan mereka.

Abu Hanifah juga berpendapat yang sama bahwa jihad adalah kewajiban bagi setiap muslim, namun umat Islam tidak diharuskan untuk berperang jika tidak bersifat perlu.[6]
Maka dari itu konsep jihad dalam perang dan damai seharusnya menekankan pada aspek-aspek yang mempengaruhinya. Dimana kita sebagai sebuah umat yang mencintai perdamaian sebisa mungkin meminimalisir adanya peperangan atas nama jihad. Kita harus lebih kritis dalam menanggapi persoalan-persoalan yang rancu dalam konseptual keagamaan .Kita dituntut menjadi orang-orang yang seharusnya menggunakan nalar berpikir kita dalam menghadapi suatu masalah.
Jihad dalam damai ialah jihad dengan tujuan untuk kebaikan dan perbaikan kaum mukminin dalam aqidah, akhlak, adab (prilaku) dan seluruh perkara dunia dan akhirat mereka serta pendidikan mereka, baik ilmiah dan amaliah.[7]
Maka dari itu berperan aktif dalam suatu konferensi perdamaian antara kaum muslimin dengan kaum nonmuslim, berdakwah juga merupakan jihad dan dalam perbaikan kulaitas kaum muslim seperti menuntut ilmu pengetahuan, memperbaiki diri lebih baik lagi, melaksanakan perintah Allah dan menjauhi diri dari laranganNya merupakan jihad .
B. Macam-macam Jihad
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa jenis jihad ditinjau dari obyeknya, memiliki empat martabat, yaitu: [8]
1. Jihad memerangi nafsu (Jihâdun Nafs)
Rasulullah shollallâhu ‘alaihi wa ‘alâ âlihi wa sallam bersabda :[9]
                                                                                                         لْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللهِ                      
“Seorang mujahid adalah orang yang berjihad memperbaiki dirinya dalam ketaatan kepada Allah.”
Jihad memerangi hawa nafsu merupakan jihad dalam bentuk ketaatan kepada Allah dan menjauhi larangannya, memerangi jiwa dengan cara menuntut ilmu dan memahami agama Islam, memahami al Qur`an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman.
2. Jihad memerangi setan (Jihâdusy Syaithôn)
Allah berfirman dalam Al-Qur’an :[10]
“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagi kalian, maka jadikanlah ia sebagai musuh (kalian), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.”
Lalu jihad memerangi setan merupakan perlawanan diri kita terhadap godaan-godaan syetan yang akan merusakan iman dan melawan keinginan buruk yang akan merugikan diri sendiri dan orang lain.
3. Jihad memerangi orang kafir dan munafik (Jihâdul Kuffâr wal Munâfiqîn)
Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman :[11]
“Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahannam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya.”
Jihad memerangi orang kafir dan munafik disini ialah memerangi mereka secara hati, lisan, harta dan jiwa .Secara hati ialah tidak memberikan loyalitas ataupun kecintaan terhadap mereka. Secara lisan ialah menjelaskan kebenaran dan membantah kesesatan serta kebatilan-kebatilan mereka.Secara harta adalah menafkahkan harta di jalan Allah dalam perkara jihad perang atau dakwah, serta menolong dan membantu kaum Muslimin. Secara jiwa adalah memerangi mereka dengan tangan dan senjata sampai mereka masuk Islam atau kalah.Keempat komponen itu akan membentuk sebuah kekuatan dalam diri kita agar senantiasa berpegang teguh pada agama Allah.
4. Jihad memerangi orang zholim, ahli bid’ah, dan pelaku kemungkaran (Jihâd Arbâbuzh Zholmi wal Bida’ wal Munkarât)
Rasulullâh shollallâhu ‘alahi wa sallam bersabda:[12]
“Siapa di antara kalian yang melihat suatu kemungkaran, maka hendakkah dia mengubah dengan tangannya, jika dia tidak mampu, maka dengan lisannya, jika dia tidak mampu, maka dengan hatinya dan itulah selemah-lemahnya keimanan.”
Berjihad dengan tangan ditujukan bagi siapa yang mempunyai kemampuan untuk merubah dengan tangannya, sesuai dengan batas kemampuan yang Allah berikan kepada mereka. Lalu berjihad dengan lisan , hal ini juga bagi siapa yang punya kemampuan merubah dengan lisannya. Selanjutnya ,berjihad dengan hati. Yaitu mengingkari kezholiman, bid’ah dan kemungkaran yang terlihat bila tidak mampu merubahnya dengan tangan atau lisannya.
C. Hukum Jihad
Firman Allah dalam Al-Qur’an :[13]

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”.

Jihad dalam arti perang melawan golongan kafir yang ada di negerinya hukumnya fardhu kifayah bagi kaum muslimin, yang berarti jika sebagian ummat Islam itu telah melaksanakan jihad maka gugurlah kewajibannya .

فإن دعت الحاجة تأخيره لضعف المسلمين , أو قلة ما يحتاج إليه من قتالهم من العدة ونحو ذلك من الأعذار جاز تأخيره

“Apabila ada keperluan yang mendorong menunda jihad karena kelemahan ummat islam atau masih sedikit hal – hal yang diperlukan untuk perang, seperti menyiapkan alat – alat perang dan sebagainya dari adanya halangan – halangan maka jihad itu boleh ditunda.”[14]
Dalam keadaan darurat atau udzur syar’i seperti adanya keadaan ummat Islam yang lemah atau sedikit jumlahnya sedangkan kelompok kafir di perkirakan jumlahya lebih banyak dan lebih kuat, atau diperkirakan orang-orang kafir itu akan segera insyaf dan masuk islam, atau diperkirakan jihad itu menimbulkan kerusakan dan kerugian yang lebih besar dibanding kemaslahatannya dalam islam, maka jihad yang berarti perang itu boleh ditunda atau ditangguhkan sampai keadaan darurat itu hilang atau selesai.
Adapun jihad difa’i yaitu perang menolak musuh dan mempertahankan kalimah Allah itu dijelaskan dalam Al-Qur’an :[15]

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ  

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”
Apabila golongan orang kafir itu telah memasuki daerah Islam dan menyerang ummat Islam, maka hukum jihad menjadi fardhu ‘ain wajib bagi setiap ummat Islam baik laki-laki maupun perempuan atau anak-anak, serta wajib ‘ain pula jihad itu atas setiap ummat Islam .

D. Jihad dalam Perspektif Hukum Islam

Jihad merupakan amal kebaikan yang disyariatkan Allah. Jihad menjadi sebab kokoh dan mulianya umat Islam. Sebaliknya, jika kaum Muslimin meninggalkan jihad di jalan Allah, maka mereka akan mendapatkan kehinaan.[16]
Akan tetapi , amal kebaikan ini harus memenuhi syarat ikhlas dan sesuai dengan syariat Islam. Jihad erat kaitannya dengan pertumpahan darah, jiwa, dan harta. Sehingga menuntut setiap muslim untuk ikut berperan aktif dalam jalan yang diridhai oleh Allah ini. Jihad menuntut pelakunya untuk komitmen dengan ketentuan dan batasan syariat, sesuai dengan hukum al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah, tanpa meninggalkan satu ketentuan pun, agar selamat dari sikap yang melampaui batas dan jihadnya menjadi jihad syar’i di atas jalan yang lurus, dan mendapatkan pahala yang besar di akhirat nanti.
Bentuk-bentuk Jihad menurut Islam :
1. Jihad Fisik
Jihad secara fisik terbagi menjadi dua :
a) Jihad thalab atau jihad hujum (jihad menyerang). Yaitu kaum muslimin yang memulai menyerang orang-orang kafir setelah memberikan kepada mereka tawaran masuk Islam atau membayar jizyah (upeti).

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا

فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّ الْإِسْلَامِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ

“Saya diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa “Tiada yang berhak diibadahi selain Allah dan sungguh Muhammad adalah Rasul Allah”, menegakkan sholat dan mengeluarkan zakat. Apabila mereka telah melakukan hal tersebut maka terjagalah darah dan harta mereka kecuali dengan Islam dan hisab mereka disisi Allah.”[17]

Pada waktu Rasulullah berada di Madinah, beliau mengirim pasukan dan bala tentara untuk menyeru manusia ke dalam Islam, dimana pengobaran peperangan dibangun di atas hal tersebut .

Dan jihad hujum ini hanya disyari’atkan bila terpenuhi tiga syarat :[18]
Dipimipin oleh seorang kepala negara.
Mempunyai kekuatan yang cukup.
Kaum muslimin mempunyai wilayah/negara kekuasaan
b) Jihad mudafa’ah atau jihad daf’iy (jihad membela atau melindungi diri).
Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa :[19]
“Jika (saudara-saudara) meminta pertolongan kepada kalian dalam (urusan pembelaan) agama, maka kalian wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kalian dengan mereka.”
Jadi, apabila musuh hendak menyerang kaum muslimin, maka menghadapi mereka adalah wajib atas orang-orang yang diserang langsung, dan juga wajib atas orang yang belum diserang untuk membantu saudara mereka.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata :[20]

“Adapun jihad daf’iy, dia yang paling wajib di antara seluruh bentuk menahan musuh yang membahayakan kehormatan dan agama, (karena itu) ia adalah wajib menurut kesepakatan (para ulama). Tidak sesuatu yang lebih wajib setelah keimanan dari menolak musuh berbahaya yang akan merusak agama dan dunia. Maka tidak disyaratkan syarat apapun dalam menegakkan (jihad daf’iy) itu bahkan ia membela diri sesuai kemampuan.”

Dan jihad daf’iy lebih sulit dari jihad tholab, karena jihad daf’iy mirip dengan bentuk mengusir musuh yang berbahaya. Karena itu, dibolehkan bagi orang yang dizholimi untuk membela dirinya .
2. Jihad Perundingan (Diplomasi)
Rasulullah lebih banyak menyelesaikan persoalan dan tantangan dengan pendekatan nonmiliteristis yaitu perundingan . Rasulullah selalu mengedepankan cara-cara damai dan manusiawi. Bentrok fisik selalu menjadi alternatif terakhir. Itu pun dilakukan sebatas untuk pembelaan diri.[21]
Maka dari itu jihad secara perundingan itu harus terlebih dahulu dilakukan untuk menyelesaikan sengketa yang terjadi diantara kedua belah pihak. Dahulukan cara-cara damai salah satunya ialah perundingan untuk menemukan kata mufakat untuk menurunkan resiko kerusakan diberbagai bidang jika jihad secara perang terjadi.
3. Jihad Finansial (Harta)
Allah berfirman dalam Al-Qur’an :[22]
“Dan berjihadlah kamu dengan harta dan jiwamu di jalan Allah.”

Diwajibkan untuk berjihad dengan harta itu umat Islam secara keseluruhan. Dan jihad dengan harta ini hukumnya fardlu 'ain, maka hendaknya kita melaksanakan kewajiban yang dibebankan kepada kita dan hendaknya kita mengeluarkan harta sebanyak yang kita yakini sampai dapat disebut telah melaksanakan kewajiban yang Allah bebankan kepada kita.
Rasulullah juga bersabda:[23]

السَّاعِي فِي الصَّدَقَةِ بِالْحَقِّ كَالْمُجَاهِدِ فيِ سَبِيْلِ اللهِ.

“Orang yang berusaha mengumpulkan zakat dengan cara yang haq itu laksana mujahid fi sabilillah.”
Jika kita tak memiliki harta yang cukup, maka lebih baik berzakat atau sedekah . Dan bersedekahlah sesuai dengan kelapangan hati kita, bukan hanya untuk sekali saja akan tetapi hendaknya kita sisihkan secara rutin dari penghasilan kita untuk jihad selama jihad itu masih ada dan mujahidin membutuhkan harta kita.
Jika sedekahpun tak mampu kita lakukan, maka mengumpulkan dana jihad dari orang-orang kaya, baik dari kaum wanita, anak-anak, orang-orang khusus dan orang-orang awam. Dan bagi orang yang tidak dapat mengumpulkan dana, kita dapat memberikan motifasi kepada orang lain untuk berjihad dengan hartanya, dan menghimbau kaum muslimin agar tidak pelit jika mereka dimintai dana.
4. Jihad Spiritual (Jiwa)
Allah berfirman :[24]
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.”
Jihad dengan jiwa, yang terdiri akal dan hati (iman), manusia diwajibkan berjihad untuk mencapai rahmat dan berkah-Nya didunia dan akhirat dengan menggunakan jiwa sesuai petunjuk-Nya. Dengan meyakinkan dalam pikiran kita bahwasanya hanya Islam agama yang benar dan hanya Allah yang wajib disembah dan ditaati perintah-Nya.
E. Jihad pada Zaman Nabi
1. Jihad Secara Dakwah (Damai)
“Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan. Kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan & dengan diam-diam.”[25]
Rasulullah saw menyebarkan Islam bermula kepada isterinya, Khadijah, dan kemudian jiran dan sahabatnya, Abu Bakar. Jihadnya atau dakwah dilakukan secara penuh hikmah, pertimbang rasa , halus budi pekerti dan sembunyi-sembunyi karena menyadari bahwa masyarakat Makkah masih berpegang kuat pada amalan nenek moyang mereka yaitu menyembah berhala yang banyak terdapat di sekeliling Kaabah. Lalu Rasulullah ingin menjadikan jihad atau dakwahnya secara terang-terangan dengan sering berdoa agar salah seorang daripada dua tokoh yang memusuhinya agar memeluk agama Islam, yaitu Abu Jahal dan Umar Bin Al-Khattab yang memeluk agama Islam dan kemudian membentuk barisan ‘pertahanan’ yang disegani penduduk Makkah.
“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman.Mereka memperoleh ampunan dan rezki yang mulia”.[26]
Pada tahun ke-13 kenabiannya, atas nasihat para sahabat dan mendapat petunjuk dari Allah, maka Rasulullah memutuskan berhijrah ke Madinah. Karena sudah ada penduduk Madinah yang memeluk agama Islam dan mereka meminta Nabi SAW bermukim di kota mereka yaitu kaum Anshar.Dalam 10 tahun di Madinah, berlaku perkembangan Islam yang amat pesat.Oleh itu, hijrah merupakan satu lambang perubahan paradigma dalam seluruh perjuangan Rasulullah.
Selama dalam kepemimpinan Nabi Muhammad, konsentrasi utama lebih pada usaha penyebaran Islam di Madinah dan mempertahankan Madinah dari penyerbuan orang Quraisy Makkah.[27]
Pada saat nabi Muhammad tinggal di Madinah , beliau memfokuskan dakwahnya pada penyebaran Islam diberbagai daerah agar seluruh bumi menjadi Islam dan dalam pertahanan agar Madinah aman dari penyerangan kaum Quraisy yang selalu menginginkan agar umat Islam menderita , lalu keluar dari agamanya. Berbagai penyerangan dilakukan diantaranya seperti perang Badar, Uhud, Mu’tah, Khandaq, Khaibar, Perjanjian Hudaibiyah, Fathu Makkah, Haji Wada’, dan Perang Tabuk.
2. Jihad Secara Perang
“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi (kaum Muslimin), karena sesungguhnya mereka telah dianiayai. Dan sesungguhnya Allah benar-benar berkuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar… ”[28]
Dalam konteks ini Rasulullah berperang dalam rangka bela diri, yaitu umat Islam tidak memprovokasi perang tetapi bertahan menghadapi musuh. Perang yang dilakukan jika pada keadaaan darurat dimana Umat Islam dianiaya dalam segi fisik, moral dan daerahnya dijajah maka dari itu umat Islam melakukan pembelaan secara langsung.
Oleh karena itu, menjadi kewajiban bagi setiap Muslim, agar belajar mengenai konsep Islam tentang jihad secara benar, dan bertanya kepada para ulama pewaris Nabi tentang hal-hal yang belum di ketahui. Karena pengertian jihad lebih umum dan lebih luas lagi maknanya. Dan tujuan disyariatkannya jihad adalah untuk menegakkan agama Islam di muka bumi ini, dan bukan untuk dendam pribadi, atau golongan, sehingga sangat dibutuhkan pengetahuan tentang konsep Islam dalam jihad, baik secara hukum, cara berjihad sebagai konsekuensi dari pelaksanaan jihad.
F. Jihad Zaman Sekarang
Pada zaman sekarang ini, jihad dilakukan bukan dengan perang senjata atau kekerasan akan tetapi jihad yang lebih mengedepankan nalar berpikir kita secara cerdas.
Cara-cara kultural yang damai yang sebelumnya mewarnai perjuangan umat, pada sebagian kelompok, tidak lagi menjadi ciri utama strategi perjuangan umat .Dengan dibukanya kran politik, kekuatan ummat Islam mulai melihat alternative strategi perjuangan ummat melalui cara-cara politik.[29]
Dahulu umat Islam lebih banyak menggunakan cara-cara lobi dan mengandalkan kedekatan dengan pribadi tokoh-tokoh pemimpin di pemerintahan, pasca reformasi umat Islam lebih banyak menggunakan strategi massa. Berbagai organisasi ummat islam seakan saling berlomba untuk menunjukkan bahwa kelompoknya didukung oleh banyak massa.Ada tingkah yang salah kaprah dalam jihad yang terjadi pada saat ini, organisasi Islam lebih mengutamakan kuantitas dibandingkan kualitas. Padahal kualitas pribadi sosok-sosok dalam Islam akan menentukan bagaimana keadaan Islam dimasa mendatang.
Akan tetapi bukan hanya dalam segi politik saja, jihad pada jalan Allah juga merupakan satu proses yang berterusan bermula daripada diri, keluarga, masyarakat, negara dan alam sejagat di dalam semua aspek kehidupan seperti pendidikan, ekonomi, hukum, politik, dan segala aspek yang berkaitan dengan kehidupan. Jihad dalam pendidikan diartikan bahwa mempelajari ilmu ataupun mengajarkan ilmu berarti telah melakukan perang melawan kebodohan sehingga umat Islam tidak akan kembali pada zaman jahiliyah.
Jihad dalam segi ekonomi ialah umat Islam harus menggunakan syariat Islam dalam kegiatan ekonomi agar terjadinya kesejahteraan dalam kehidupan para muslim lalu umat Islam harus menunjukkan eksistensinya diantara umat lain bahwasanya Islam memiliki konsep yang indah dalam berekonomi. Jihad dalam segi hukum yaitu penegakkan keadilan sesuai aturan Islam dalam menyelesaikan suatu masalah sehingga terjadinya stabilitas peraturan yang mempondasi kehidupan.
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”[30]
Tidak kalah pentingnya jihad dalam segi moral karena kita diciptakan ke dunia untuk menjadi khalifah atau pemimpin bagi diri kita sendiri ataupun sebagai sosok yang akan menentukan nasib bumi kedepannya. Sekarang ini banyak terjadi krisis moral di berbagai kalangan umat Islam , banyak orang yang beragama Islam akan tetapi tak menunjukan identitas keislamannya secara menyeluruh dan konsisten. Tugas seorang khalifahlah untuk menyeru saudara-saudaranya untuk kembali pada ajaran Allah SWT .Jika kita menjadi khalifah yang melupakan tugas kita di dunia ini niscaya kita akan dibalas dengan siksaNya yang pedih. Maka dari itu kita sebagai seorang pemimpin diharuskan melakukan jihad terhadap kejahatan-kejahatan yang bertentangan dengan Al-Qur’an dengan semaksimal mungkin.

Daftar Pustaka
Al-Qur’an terjemahan.
Dr. Marzuki, M.Ag ,Sejarah Peradaban Islam
Gamal Al banna. 2006. Jihad. Jakarta: Mata air publishing.
Jindan, Khalid Ibrahium.1998. teori Pemerintahan Islam Menurut Ibnu Taimiyah.
Suryohadiprojo, Sayidiman. 2008. Pengantar Ilmu Perang.
Syaikh Dr.Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad, Al-Quthuuful Jiyaad min Hikami wal Ahkaamil Jihaada.
Wujub at Ta’awun Baina al Muslimin, al Majmua’ah al Kaamilah jilid ke 5.
Zainuddin Fananie dkk.Radikalisme Keagamaan dan Perubahan Sosial. Surakarta. Muhammadiyah University Press. 2002
http://www.almanhaj.or.id/content
www.wikipediaindonesia.com



Catatan Kaki :

[1] Gamal Al banna.Jihad.(Nasaruddin Umar-kata pengantar). Jakarta. Mata air publishing. Hal 120
[2]. Sayidiman Suryohadiprojo,Pengantar Ilmu Perang, hal 96
[3] Al-Baqarah ayat 126
[4]. www.wikipediaindonesia.com
[5]. http://idwikipedia.org/wiki
[6]. Khalid Ibrahium Jindan, teori Pemerintahan Islam Menurut Ibnu Taimiyah, hal 114-117
[7]. Wujub at Ta’awun Baina al Muslimin, al Majmua’ah al Kaamilah jilid ke 5, hal 186
[8]. http://www.almanhaj.or.id/content/2721/slash/

[9] Ibnu Nashr Al-Marwazy , Ta’zhîm Qadrish Sholât No. 640-641
[10] QS. Fâthir ayat 6
[11] QS. At-Taubah : 73, At-Tahrîm : 9

[12] Hadits riwayat Muslim No. 49
[13] Surah At-Taubah ayat 122
[14] Syeikh Abu Ishak Asy dan Syairozi . Kitab Muhadzdzab II , hal 227

[15] Al-Baqarah ayat 190
[16]. Syaikh Dr.Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad, Al-Quthuuful Jiyaad min Hikami wal Ahkaamil Jihaada, hal. 23-35
[17] Hadits Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma riwayat Al-Bukhary No. 25
[18] Amman .Mujmal Masa`il Al-Îman Al-‘Ilmiyah fii Ushul Al-‘Aqîdah As-Salafiyah, Hal. 31
[19] QS. Al-Anfal ayat 72

[20] Al-Ikhtiyarat Al-Fiqhiyah, Hal. 532
[21] Nasaruddin Umar. Koran Republika.co.id
[22] Q.S At Taubah ayat 41
[23] H.R Tirmidzi No.645
[24] QS. Al Hujuraat ayat 15
[25]. Q.S. Nuh, 71 ayat 8-9
[26]. Qs. Al-An’fal, 8 ayat 74
[27]. Marzuki, Sejarah Peradaban Islam, Gramedia Pustaka. hal 138
[28]. Q.S Al Hajj ayat 39-40
[29].Zainuddin Fananie,dkk.Radikalisme Keagamaan dan Perubahan Sosial. Surakarta. Muhammadiyah University Press. hal 50
[30].QS Al-Baqarah ayat 30

Kutemukan Surga

aku temukan surga, yang nyaman untuk ku singgahi
surga itu enggan tak enggan tuk ku huni
nyatanya surga selalu dinanti.
siapa yang mau keluar dari surga?
sang durjanapun keluar karena terpaksa

aku temukan surga, surga yang bak simalakama
kini hanya bisa ku pandangi bayangnya,
serta cerita-cerita orang tentang indahnya surga
yang kini mereka miliki,
ah, andai segera ku miliki
karena menemukan bukan berarti memiliki

andai surga itu enggan ku huni, selamanya?
aduhai, betapa sedihnya
tak ada satupun yang bisa menggantikan surga
berjuta kali ku bimbang
hanya di surga hatiku tenang.

aku tak mau jadi setitik nila
yang merusak fluida kesucian, sebelangga
aku ingin seperti setitik bintang
di langit jelaga
menambah indahnya dirimu,
bukan malah menjadi kelabu.

surga yang selalu dinanti
hingga hitungan jari
hingga hitungan hari
aku takut sang waktu mengkhianati
hingga nanti nestapa menghampiri
'wahai Ilahi
aku ingin surgaku
akan kubawa surgaku ke dalam surga-Mu
bersamaku'

aku temukan surga, yang nyaman untuk ku singgahi
surga itu adalah kamu...

Mozaik


Tak pernah ada yang tahu
Sedetik cerita yang mungkin tertulis
Peluang tak seperti kau membuat bidang persegi


dengan toping fungsi de moivre di atasnya
Kemudian kau cari luasannya.
Itu tetap sulit, namun peluang tak semudah itu.

Kau tahu aku bodoh dalam intergral
Sebuah ranah hasil fungsi yang tak selalu reversibel
Mengumpulkan ribuan fungsi derivatif dengan berbagai konstantanya
menjadi sebuah mozaik yang utuh.

Ku kira iterasi akan ku lanjutkan
satu, dua, tiga ...
sepuluh, dua puluh, tiga puluh,
atau tak terhenti, mengular
Demi mengintegrasikan fungsi itu
dalam pendekatan
sedekat-dekatnya
Meski ia tak mungkin melekat.

Iterasi yang ku jalani mungkin akan lama
di tambah aku yang bodoh perlu tambahan waktu untuk mengerti
Stok kesabaran masih cukup di laci
Ku harap bisa ku gunakan sampai ku mati.

Ku harap fungsi ini akan dapat ku taklukan
Sehingga tak perlu waktu lama
Untuk mengintegrasikan dalam bingkai mozaikku
Sekarang saja aku bodoh
Esok hari ku akan temukan jalan pintasnya.

Tak pernah ada yang tahu
Sedetik cerita yang mungkin tertulis
Selama gagal bukan keniscayaan
Ada asa yang tersimpan.

Mungkin sedetik lagi
Aku telah mengintegralkan fungsi ini...

Bintang Muncul Tanpa Permisi




“Ah, masih banyak banget tugas yang belum kelar. Padahal 2 minggu lagi mau UAS lagi” terdengar keluh Hana di kamarnya. Kertas-kertas berukuran F4 yang masih polos, masih rapi pula di mejanya. Tangannya masih belum terasa pegal sama sekali (karena ia belum menulis apapun hari ini). Ia hanya menunduk menatap tugas mata kuliahnya. Tugas artikel, puisi, kemudian cerpen; semua itu adalah tugasnya kini hingga deadline tugas tiba.
Sebenarnya ia bisa kerjakan tugas seperti artikel atau puisi. Hanya saja untuk buat artikel, ia masih perlu banyak referensi, buku-buku perpustakaan jurusan. Puisi, ia sudah jago, bahkan ia pernah juara tingkat kecamatan dalam lomba perayaan hari besar keagamaan. Cerpen, ini dia masalahnya kini.
“Mendingan cari pencerahan aja dulu di internet” begitu pikirnya, yang sebenarnya sudah berkali-kali ia lakukan. Ia buka laptopnya, mengoneksikan dengan internet hasil teathering, browsing, dan seperti pada umumnya orang ketika mencari di search engine, arah pencariannya makin lama makin tak jelas. Dari mulai kata “contoh cerpen” kemudian “kumpulan cerpen” malah semakin jauh hingga sampai pada keyword terakhir “Fisbuk (nama jejaring sosial yang tenar saat itu)”. Ya, dan itu sudah sering ia lakukan berkali-kali. Tapi, tunggu….. sebaiknya untuk keyword terakhir tak terjadi. Ia membaca cerpen dari website.
“Gimana kalau tentang ini aja” ia mulai minta saran pada diri sendiri. Sebelum ia kembali lupa, ia biarkan apa yang ada dikepalanya mengalir ke hamparan kertas F4 melalui pulpennya. Kira-kira begini tulisannya saat itu :
Hempasan angin membulirkan padi tanda pagi menjelang,  gelap bersahaja masih mewarnai dunia. Kala itu Diana seorang wanita remaja membuka jendela.  Dihirupnya udara pagi nan senyap dalam keheningan bahasa,
 Ibu : De, kau tak pergi ke surau ? Cepat segera kau tunaikan kewajibanmu itu.” (Terdengar nyaring dibalik bilik).
Diana : iya bu, ade hendak merapihkan kamar terlebih dahulu.” (Bergegas diri).
Tidak seperti kehidupan kota yang marak akan lalu lalang kendaraan, di Desa kami masih sangat jauh dari hirup pikuk kehidupan. Pembangunan masih hanya sebuah angan  yang tak pernah kami impikan. Meski kami berada dipulau dengan jumlah penduduk terbesar akan tetapi kami masih terasingkan . Sudah sekian lama kami menunggu pemerintah merealisasikan segala bentuk rencana pembangunan yang dicanangkan. Namun rupanya rencana hanya tinggal sebuah nama, nyatanya kami tak pernah bermakna. Sesekali kami sempat melihat dunia luar dari televisi hitam putih milik ketua desa. Menyeruak asa dalam batasan rasa, akankah, mungkinkah.
Kembali ia buntu, tak tahu harus bagaimana.
“Kakak, makan dulu gih. Nanti habis makan dilanjutinnya” Gennady membuka pintu kamar Hana. Hana segera bergerak menuju ruang makan.
“Gak bosen apa di kamar mulu?”
“Bukannya gak bosen, dek. Tugas kakak nih lagi numpuk banget. 2 minggu lagi harus udah beres to.”
“Eleh, woles aja kak. Masih 2 minggu ini” Gennady tertawa kecil
“Ye, dua minggu tuh bentar lagi dek. Nanti kamu kuliah bakal ngerasain capeknya jadi mahasiswa”
“Eh, kenapa nih pada ribut-ribut. Udah cepet makan” . Ibu sudah stay di meja makan menunggu Hana yang baru bersedia makan. Pikirannya masih belum tenang. Apa lanjutan dari cerpennya itu? Sinetron episode 1 sudah mulai diputar di kepalanya.
*******
“Gue udah dong, tinggal artikel doang. Artikel tinggal copy-paste , langsung jadi” Klara dengan bangganya berkata pada Hana.
“Wah, enak banget. Gimana kalau kita barter aja. Gue buatin lo artikel, lo buatin gue cerpen” Negosiasi pun terjadi.
“Ah, penawaran yang gak menarik sama sekali. Gue juga bisa bikin artikel sendiri “ tawaran Hana pun ditampik. Ya, aku sendiri merasa tawarannya memang tidak menarik.
Kawan, sebenarnya problem dia cuma satu, cerpen yang buntu. Aku kadang merasa kasihan pada Hana. Tapi apa daya aku cuma narator, tugasnya hanya bisa menceritakan keadaannya (bung, ini tidak lucu).
Mungkin ide lain bisa diterima. Beberapa percakapan di sore hari telah menampung beberapa masukan bagus untuk idenya. Ada yang berkata “ Udah tentang cinta tukang parkir dan orang kaya aja”. Hana hanya menggeleng kepala. Dia pikir ini FTV?
Ada lagi yang lain “ tentang perjalanan seorang wanita dalam meraih kesuksesan. Meskipun ia punya keterbatasan.”. Namun, Hana sadar cerita seperti itu bisa jadi novel. Kalau idenya sudah tak terbendung tentang satu tema, ia akan sulit mengontrol sampai mana ia akhiri ceritanya. “Oke, bisa diterima”. Hana menyetujui. Barangkali ia bisa kontrol. Lelaki itu tampak sumringah. Leo, lelaki yang memendam rasa suka pada Hana sejak OSPEK (jangan bertanya dari mana aku tahu). Jelas ia sumringah, karena setidaknya Leo punya peluang jadi ‘pahlawan’ untuk yang dia sukai, Hana.
Ada lagi ide yang cukup bagus “ Gimana kalau tentang cerita melawan adat kolot? Banyak tahu cerita kayak gitu”. Tasya, dialah si pemberi saran pada Hana. Mungkin ia bisa langsung ambil. Tasya, anak jurusan Sastra Indonesia itu memang langganan juara cerpen di setiap event. Pilihan dari Tasya, ia terima.
Satu lagi saran datang “Lanjutin aja sih cerpenmu yang buntu itu. Siapa tau kepikiran lagi idenya.” Saran itu dari Saki, kawan se Departemennya di Himpunan. Ia bertemu sehabis rapat himpunan.
Semua ide kini ada di hadapan meja belajarnya. Tinggal ia ubah menjadi sebuah cerpen yang selesai ia kumpulkan ke dosen, dan ia bisa tenang. Namun mentransformasi ide menjadi cerpen tak semudah mengubah beras menjadi nasi yang pulen. Ia sadar, sebaris ide ini saja tak cukup.
Ia pandangi kalender di kamarnya. 9 hari menuju hari ulang tahunnya. “Ah, aku gak akan bisa tenang atau happy-happy di hari ultahku kalau tugas ini aja belum kelar.” Tiba-tiba terdengar suara kaki yang grusah-grusuh berlari. “Kak, boleh minta kertas F4 gak?” Gennady terengah-engah masuk ke kamar Hana. “Tak boleh” ucap Hana dengan logat seperti Kak Ros di film Upin Ipin.
“Lagian buat apa ,lagi?”’
“Buat kerjain tugas kak”
“ya udah, ini kertasnya” 3 lembar F4 ia berikan pada Gennady.
“Tumben kamu ngerjain tugas. Biasanya males-malesan.”
“Ah, kakak nih. Males-malesan salah, gak males-malesan juga salah.”
“Bukan gitu, kakak malah seneng kamu jadi rajin gitu.”
“Hehe, ya udah. Aku mau kerjain tugasku dulu” Gennady kembali berlari, seolah waktunya tersita cukup banyak karena percakapan singkatnya. Ada yang janggal, pikir Hana. Tapi, ia tersenyum, merasa tergugah pada semangat sang adik. “Ayolah. Semangat!” soraknya mulai membakar energi untuk bekerja lagi.
*******
Akhir-akhir ini Gennady mulai berlaku aneh. Mungkin bukan aneh, hanya terasa tak biasa. Setelah pulang sekolah jam 14.30, ia langsung mengurung diri di kamar, berteman dengan kertas dan pulpen, sesuatu yang biasanya membuat Gennady muak.
“Ma, ngerasa ada yang aneh gak?” Hana masih menyetrika baju-bajunya .
“Aneh kenapa?” Mama mengganti-ganti kanal ke acara TV kesukaannya, acara kesehatan.
“Itu, Gennady. Jarang-jarang kan dia ngurung di kamar sambil mainin kertas.”
“Kan, gak ada salahnya adikmu begitu.”
“Ya sih, Cuma aneh aja gitu. Udah 5 hari dia gitu terus.”
“Ya berarti kamu mesti contoh Gennady. Dia aja rajin. Kakaknya jangan mau kalah dong.”
Job Hana sudah beres. Tinggal ia masukan baju hasil setrikaannya ke lemarinya. “Perasaan udah rajin kok”. Hana mulai melangkah menuju kamarnya.
Pakaian sudah tertata rapi di lemarinya. Ia keluar dari kamarnya. Baru beberapa langkah, ia melihat pintu kamar Gennady terbuka. Rasa penasaran Hana mulai muncul. Seketika ia masuk ke kamar Gennady.
“Rajin banget” kesunyian di kamar Gennady menjelma bersuara karena ucapan Hana. Entah kenapa gelagat Gennady tiba-tiba jadi gugup dan kaget.
“Eh, kakak. Ngapain kesini? Ngagetin pula.”
“Pengen liat adekku ini tercinta lagi belajar. Kakak boleh liat gak tugasnya.”
“Gak boleh!” refleks saja Gennady langsung menaruh kedua telapak tangannya di kertasnya. “Kenapa?” Hana merasa ada yang aneh – lagi.
“Eh, anu. Gak apa-apa sih kalau mau liat”. Entah aku salah liat atau tidak, ia sedikit memilih kertas yang ia tunjukan, dan itu bukan kertas yang ia tutupi tadi. Sayang sekali Hana tidak melihat trik itu (dan sayang sekali pula aku tak bisa memberi tahu karena aku cuma narator).
“Pantes aja anteng di kamar. Ternyata lagi belajar buat remedial matematika to. Mau dibantuin gak?” Hana memperhatikan kertas coretan hitungan matematika yang kacau. Ia tahu adiknya memang tak jago matematika.
“Nanti aja, masih bisa kok” Gennady tertawa kecil dengan nada yang ‘aneh’ seperti masih ada yang dia sembunyikan.
“Ya udah, lanjutin lagi belajarnya” Hana keluar dari kamar Gennady, berlalu. 10 langkah dari pintu tertinggal, seketika kedua tangan Gennady menggenggam kepalanya. “Astaga !” seperti ada yang gawat. Ia masih menatap pintu kamarnya yang terbuka. Gawat, pikirnya.
*******
Ibu : De, sedang apa kau duduk  melamun seperti itu ?”
Diana: ohh ibu rupanya. (sontak membuatku terkejut, memang sedari tadi aku terus saja sibuk melamunkan masa depan)
 Aku sedang berpikir keadaan desa kita jika suatu saat nanti pembangunan masuk kemari, bu. Pasti akan amat menyenangkan ya, bu. (jawabku)
Ibu: Kau ini terus sajalah melamun , ayo segera bergegas bantu ibu membuat kue.”
Diana : yah ibu.. Baik ,bu. (Beranjak pergi)
Hidup terkadang harus dipahami, apalagi untuk ukuranku yang hanya anak  seorang janda miskin. Getir memang, tapi lebih baik beranjak bukan dari pada hanya bermimpi kosong. Kami masih harus menyambung hidup dalam keadaan apapun.  Telah lama aku putus sekolah karena tak ada biaya. Seperti inilah, setelah ayah pergi semuanya terasa semakin sulit saja. Tapi kami bukan orang-orang yang akan kalah oleh dunia, masa depan masih terbentang luas disana.
Sorotan cahaya mentari menyeruak ke permukaan, memberi sedikit cahaya dibalik bilik rumahku yang sederhana. Ini saatnya aku menjual berbagai macam kue yang telah kami buat. Dengan terus berharap bahwasanya ada rizki kami diluar sana.
Begitulah cerpennya bersambung. Aku akui diksi yang dipilih oleh Hana selalu menawan. Ia sudah mulai menemukan ide untuk cerpennya. Ia sadar bahwa ketika menulis, ia harus membiarkan idenya ‘mengalir’ sebelum ia lupa. Ia segera memberi judul ‘Tak Kenal Rupa ataupun Nama’ pada cerpennya. “Uhm, bagus juga. Ide udah kesusun. Tinggal lanjutin lagi nanti” Baru kali ini tangan Hana mulai terasa pegal, setelah sekian lama ia tak menulis apapun. Namun, rasa senang kini mulai mewarnai hati Hana malam itu. Ia sadar ia bisa membuat cerpen, dibekali dengan pengetahuan seputar diksi yang cukup mumpuni. Tapi, ia sadar bahwa kumpulan diksi yang indah dan nampak ‘intelek’ tanpa alur serta konflik tentu bukanlah cerpen yang bagus pula.
Ia sadar bahwa tugas mata kuliah yang lain masih menantinya. Ia harus benar-benar membagi waktu. Tak banyak waktu main untuk sekarang, minggu ini, minggu-minggu sebelum UAS. Waktunya kerjakan tugas hingga selesai. Liburan 2 bulan nanti mungkin akan jadi ajang pelampiasannya. Ia mulai melihat lagi kertas yang dia ambil dari Gennady sore tadi, berharap bisa membantu. “Kasihan Gennady, dia sampai remedial. Besok mungkin aku bisa ngajarin dia. Mumpung ada waktu luang. Kakak macam apa aku ngebiarin adiknya kesusahan kayak gitu” Hana memperhatikan coret-coret Gennady. Halaman belakang buku catatan Hana menjadi sasaran untuk menghitung kembali atau lebih tepatnya mengkoreksi perhitungan Gennady. Matriks ordo 2 kali 2 dan invers. Hana mengernyitkan dahi, Gennady yang masih kelas 1 SMA sudah ditawari materi matriks. Dengan cekatan, tangan Hana membuat pulpennya menari di halaman belakang buku catatannya.
Beres beberapa soal, Hana merasa soal ini teramat mudah untuknya. Lanjut soal lainnya. “Beberapa menit langsung beres ini mah” Hana tersenyum memandangi soal mudahnya. Ia melihat kembali lembar tulisan Gennady. Matanya tertuju pada sebuah coretan janggal ‘Jadi yang baik’ kemudian ‘ Usaha dulu biar bisa…’ tulisan kelanjutannya tak jelas. Ada lagi tulisan tak jelas berinisial H, ada lagi coretin ‘Mission 3: ….’ Tak jelas lagi tulisannya. Ada lagi ‘Berhasil Ngintip, Mission Complete’ Terlalu banyak sandi, terlalu banyak rahasia. Satu lagi tulisan yang bisa ia baca ‘untuk wanita tercintaku, aku akan berusaha’. Cie, cie, Hana hanya tertawa kecil. Sepertinya si adik sedang kasmaran. Ia lanjut menyelesaikan soal latihan adiknya dan ternyata tidak perlu waktu lama untuk menghasilkan bentuk yang diinginkan-jawaban. Imbalan dari ‘jawaban’ dari rasa penasarannya beberapa hari terakhir.
*******
Gennady mulai menengok kiri kanan, seperti mengendap-ngendap. Aman, pikirnya saat itu. Beberapa langkah menuju kamarnya, suara tak asing mengejutkannya.
“Ehm, cie cie” Hana sedari tadi menatap gelagat adiknya.
“Kenapa kak?”
“Kayaknya ada yang disembunyiin. Tapi, sayang banget. Kakak tau apa yang kamu sembunyiin” Hana mulai tertawa seperti pemeran antagonis ‘mainstream’.
“Rahasia apa sih? Perasaan aku gak nyembuyiin apa-apa kok”
“Masih gak mau ngaku? Mama...”
“Ssst! Tolong jangan bilang siapa-siapa” Gennady reflek saja menutup mulut Hana. “Sebenarnya aku pengen kasih kejutan Mama, nilai bagus di remedial nanti. Makanya aku akhir-akhir ini belajar terus” Gennady mulai buka rahasia. Astaga, di luar dugaan Hana. Salah besar.
“Jadi itu yang kamu sembunyiin? Kenapa gak bilang kakak sih, kalau mau nilai kamu bagus?”
“Abis kakak tuh ember, entar ngomongin ke Mama lagi. Ini lagi kebongkar. Gagal nih”
Hana menggeleng-geleng kepala melihat tingkah adik satu-satunya ini. “Gak bakal dibilangin kok, Gen. Kakak janji gak akan bilangin ke Mama. Sumpah deh. Lagian kakak juga niatnya pengen ngajarin kamu, supaya nilaimu bagus.”
“Beneran nih?”
Hana mengangguk. Gennady mulai girang. “Yuk belajar sekarang, siapin buku catetannya” Hana merasa senang melihat apa yang ingin dilakukan oleh adiknya ini, memberi kejutan untuk Mama. Andaikan saja adikku seperti itu, aku pun akan semangat juga (maaf, seharusnya saya tidak perlu curhat disini. Jadilah narator profesional).
Mulailah mereka belajar bersama. Matriks dan Inversnya, begitulah materi yang bahas. Dari pintu yang sedikit terbuka, Mama memperhatikan mereka berdua sedang belajar bersama. Sesekali mereka bercanda. Mama hanya tersenyum melihat kegembiraan dari kedua buah hatinya.
*******
Hari-hari yang sibuk. Gennady semakin sering mengurung diri di kamar. Belajar dengan rajin. Sesekali terdengar teriakan kecil “Argh! Kenapa susah sih?!”. Sepertinya ia sangat berusaha keras. Berlembar-lembar kertas ia habiskan, tapi anehnya ada yang ia susun rapi. Mungkin untuk dihafalkan.
Hana semakin sering pulang malam, karena agenda himpunan sedang padat. Dia merupakan anggota yang setia pada himpunan, terlebih ia menjadi ketua salah satu divisi di himpunan. Ia sering bangun pagi sekali untuk mengerjakan tugas kuliahnya. Tugas kuliah kadang seperti sungai yang tak ada ujungnya, ada saja setiap minggunya. Pernah ia benar-benar lelah, sampai ia tak bisa bangun awal. Sesekali ia pernah dipijat Mama. Gennady melihat kakaknya yang benar-benar lelah itu. Iba rasanya.
Malam itu Jum’at malam. Hujan turun amat derasnya. Gennady tiba-tiba aneh. “Kenapa sih malah hujan?!” Gennady mengepalkan tangannya ke tembok.
“Kenapa Gennady?” Mama cemas melihat gelagat Gennady. Gennady tetap tak bergeming. Ia merasa sangat kesal. Ia segera masuk ke kamar, mengunci kamar dengan rapat.
“Halo, jemput gue sih…Disini hujan…Mana disini tutup lagi… Please banget…Lu punya dua jas hujan kan? Please lah…..Oke, Thanks banget ya. Gue tunggu lu di depan rumah…. Oke”. Baru saja Gennady menelpon temannya. Hana mendengar percakapan Gennady. Saat keluar dari pintu, “Kamu mau kemana? Hujan-hujan gini malah pergi” Hana sedari tadi menunggu Gennady keluar dari kamarnya.
“Mau belajar bareng kok.”
“Bohong. Terus kenapa ada tutup-tutup segala?”
“Udah sih, kak. Gak usah tau. Lagian jangan keras-keras nanti ketauan Mama tentang rahasiaku”
“Kalau kamu gak bilang ke kakak, kakak bakal kasih tau Mama” Hana mengancam sambil berjalan menuju Mama.
“Bukannya kakak udah janji gak bakal ngasih tau? Bukannya semua udah clear ? Apa sih yang kakak mau?” Gennady menagih janji. Langkah Hana terhenti.
“Gen, kakak gak mau kamu keluar hujan-hujan gini. Kakak gak mau kamu kenapa-kenapa. Kakak takut. Jalan licin, bahaya.”
Gennady menunduk “Aku pastiin aku bakal baik-baik aja. Tolong, ijinin aku, kak”
“Dek, kakak bakal ijinin, tapi kalau hujannya udah reda. Kakak gak mau kamu sakit. Kakak udah sering pulang malem. Kalau kamu sakit, siapa yang bakal bantu Mama. Tolong ya” Hana memberikan senyum, agar Gennady setuju. “Oke, sampai hujan reda” Gennady setuju, sekalipun masih ada raut gelisah. Namun, janggal sekali. Gemuruh hujan tak sekencang sebelumnya, bahkan tak ada. Suara deru motor yang mulai terdengar. “Tuhan, terimakasih” ucap Gennady lirih. “Aku berangkat ya kak” Gennady bergegas pergi keluar. “Hati-hati” ucap Hana tak terdengar oleh Gennady. Ia melihat usaha adiknya, ngotot. Segera motor yang membawa Gennady dan temannya melaju, berlalu. “Gennady sama temennya mau kemana?” Mama bertanya pada Hana.
“Gak tau ma, dia udah gede ma, gak usah khawatir.”
Langit tak mendung lagi. Muncul sebuah bintang nan indah. Terang cahayanya. Bintang memang muncul tanpa permisi.
*******
Kamar Gennady sudah terkunci rapat. Ia sudah berangkat sekolah. Sebentar lagi ia pulang. Hari itu adalah hari sabtu.
“Mama, buku-bukuku dimana sih?” Hana mulai mengobrak-abrik meja belajarnya.
“Lha, emang tadinya kamu taruh dimana, han?” Mama mulai menghampiri Hana sambil ikut mencari. Tiba-tiba deru suara motor terdengar. Gennady turun dari ojek, membayar 4 ribu. Ia berjalan pelan, membawa sesuatu. Segera ia mengetuk pintu. Hana segera membuka pintu, dia hendak bertanya apa dia melihat bukunya, tapi setelah terbuka.
“Happy birthday to you, happy birthday to you. Happy birthday, happy birthday, happy birthday to you. Selamat ulang tahun, kak yang ke 20” Gennady tersenyum sambil membawa kue ulang tahun, dengan lilin merah berbentuk XX, 20 dalam angka romawi. Hana tercengang “Ini hari ulang tahunku ya?” ia tak percaya hari ini ulang tahunnya. Gennady hanya tertawa “Kakak sih over  sibuk, sampai lupa ulang tahun sendiri” Mama bahkan tak tahu ulang tahun Hana, mama sendiri tak ingat ulang tahunnya sendiri.
Prosesi mainstream pun mulai terjadi. Tiup lilin, potong kue (potongan pertama untuk Gennady), dan seperti biasa, buka kado. “Tapi, sebelum kasih kado buat kak Hana, aku mau nyampaiin sesuatu. Ini hadiah buat mama, emang sih hari Ibu udah lewat, tapi gak salah kan kasih hadiah di hari apapun” Gennady memberi sesuatu untuk Mama. Ternyata nilai remedial Gennady, 100, dan itu nilai matematika. Mama tersenyum melihat hasil yang luar biasa. “Gen, walaupun nilai kamu gak 100 pun, walaupun kamu terus-terusan remedial pun, Mama tetep bangga punya anak kayak kamu.”
“Jadi, bangganya cuma ke Gennady doang. Oke, fine” semua tertawa. “Mama juga bangga punya anak yang cantik dan pinter kayak kamu, Han” hana mulai senyum senyum “Makasih Mama”.
“Ini hadiah buat kakak” Kotak besar ia berikan untuk Hana. Apasih isinya? “Jangan-jangan komputer nih” Hana mulai buka kado. Di dalam kado, ada benda berbentuk balok dibungkus kertas kado. Setelah dibuka isinya…ada kertas di atas benda itu. ‘Aku tau kakak sibuk, tapi kakak gak perlu tau kalau aku peduli sama kakak’ begitulah isi tulisannya. Buku-buku kuliahnya menjadi hadiahnya. Ia buka lembar demi lembar, ternyata tugasnya telah selesai dengan sempurna. Hana merasa tercengang. Pantas saja buku kuliahnya tak ada tadi.
“Ada lagi kak. Cek lagi deh” Gennady mulai senyum senyum. Bentuk kadonya lempengan, tapi bisa ditekuk. Sepertinya kumpulan kertas. Setelah dibuka, ia kembali tercengang. ‘Aku tau kayaknya kakak lagi stuck cari ide. Semoga bagus’ begitulah tulisan di atas kado itu. Lembar itu adalah cerpen buatan Gennady, untuk Hana.
“Awalnya aku pengen nerusin cerita kakak. Aku sempet ngintip ke kamar kakak. Tapi, ternyata aku gak bisa. Ya udah aku bikin sendiri” Gennady tersenyum. Hana kembali tercengang melihat apa yang telah dipersiapkan dan kini ia berikan pada Hana. Ia kini mengerti mengapa Gennady ngotot pergi keluar malam itu. Tempat nge-print di desanya tutup saat itu. Ia harus ke desa lain yang agak jauh. Jadi ini rahasia yang telah direncanakan dengan cukup matang. Rasa penasarannya benar-benar hilang. Rahasia sudah selesai. Terjawab sudah. Hana segera memeluk Gennady. “Gen, makasih banyak buat semua ini. Kakak gak nyangka bakal dapet kejutan kayak gini. Makasih banget”. Gennady tersenyum. Berhasil, pikirnya. “Gak usah lebay gitu kak, sampai netes segala. Jangan-jangan liur lagi” Gennady mulai bercanda.
“Ah, kamu tuh Gen. Orang lagi serius juga malah becanda lagi. Lagian bukan air liur tau” Hana mulai mengusap air matanya. Semua tertawa. Sore itu langit amat cerah, menerangi sudut-sudut ruang dimana mereka berkumpul. Puji Tuhan, dalam kasih tiada terputus, hadiah istimewa adalah berbagi kebahagiaan. Atas semua kado dari-Mu, tanpa menunggu kami berulang tahun, kami berucap beribu puji. Tuhan, tak peduli banyak orang berbeda cara untuk mencinta-Mu, entah siapa yang salah atau benar, Kau tetap membalas upaya cinta yang kecil dengan kasih yang besar tak tertakar. Hana mengucap syukur atas kebahagiaan hari ini. “Tuhan, terimakasih”.
Nb: Cerpen yang diberikan kepada Hana berjudul ‘Bintang Muncul Tanpa Permisi’.

Kamis, 11 Desember 2014
20.07


RAMALAN RONGGOWARSITO (MITOS PEMIMPIN INDONESIA)




 

Didalam suatu kehidupan kan banyak terjadi pergejolakan diantara banyak kubu. Pergejolakan tiada lain terjadi karena perebutan  tonggak kekuasaan yang terus saja menjadi hal yang menarik untuk di perjuangkan. Melihat kondisi bangsa yang semakin carut-marut maka banyak kalangan dengan berbagai filosofi pemikirannya membuat beberapa pernyataan diantara yang terkenal ialah mitos pemimpin ramalan ronggowarsito dalam perjalanan politik indonesia.
            Bagi sebagian orang khususnya di Jawa banyak yang masih meyakini bahwa ada korelasi atau hubungan antara pemimpin versi ramalan Ronggowarsito dengan perpolitikan Indonesia khususnya dalam memilih pemimpin (Raja/Presiden) . Meskipun sebagian masyarakat lainnya tidak mempercayai hal itu, akan tetapi tidak ada salahnya jika kita sedikit membuka wawasan bahwa mitos pemimpin versi ramalan Ronggowarsito bukan hal yang bersifat klenik dan sebagainya akan tetapi lebih sebagai referensi atau wawasan pengetahuan kita.
            Salah satu ramalan Ronggowarsito yang terkenal  yang  sering digunakan sebagai bahan diskusi berbagai komunitas sejarah  dan budaya adalah  kedatangan SATRIO PININGIT yang akan memimpin Indonesia.
            Berdasarkan ramalan Ronggowarsito ada  periode sebagai tanda munculnya pemimpin  yaitu :

 1.      SATRIO KINUNJORO MURWO KUNCORO.
 Artinya Kesatria/Pemimpin yang terpenjara yang membuka kemasyuran (negara).
Jika mengacu pada yang sudah terjadi kita bisa simpulkan bahwa yang dimaksud adalah  Presiden pertama kita   bapak  Soekarno.
 2.      SATRIO MUKTI WIBOWO KESANDUNG KESAMPAR.
 Artinya Kesatria/Pemimpin terhormat berwibawa yang  tersandung dan tersisihkan.
 Untuk yang kedua ada tiga presiden yang mengalaminya :
a.        Bapak Soeharto
b.       Bapak Habibie
c.        Bapak Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
 Dari ketiga mantan presiden ini semua adalah orang yang terkenal tidak hanya di Indonesia tapi di dunia internasional tapi perjalanannya didalam memimpin  tersandung oleh mahasiswa dan MPR dan setelah itu tersisihkan.

 3.      SATRIO JINUMPUT SUMELA ATUR.
 Artinya Kesatria/Pemimpin yang diambil/diangkat sebagai pengganti (mengatur sementara).
 Untuk yang ketiga  yang menjalaninya ialah :
 Ibu Megawati, beliau menjadi presiden setelah Gus Dur dilengserkan oleh MPR.
 4.      SATRIO LELONO TAPA NGRAME.
 Artinya Kesatria/Pemimpin pengembara yang  bertapa ditengah keramaian.
Untuk yang keempat ialah :
Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Karena tidak mendapatkan dukungan kuat di DPR maka sibuk bekerja mencari dukungan kesana kemari di keramaian gedung DPR.
 5.      SATRIO PININGIT HAMONG TUWUH.
 Artinya Kesatria/Pemimpin Tuwuh (muncul/tumbuh) untuk hamong/momong (merawat/menjaga/meneruskan).
Untuk yang kelima ini ialah :
Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Karena beliau menjabat lagi dan kejadiannya hampir sama dengan yang pertama tidak bisa mendapatkan dukungan yang kuat di DPR.
 6.       SATRIO BOYONG PAMBUKANING GAPURO.
 Artinya Kesatria/Pemimpin yang pindah tempat. (gapura biasanya batas wilayah)
Untuk yang keenam ialah :
Bapak Joko Widodo. Karena beliau menjabat setelah berpindah jabatan dari Gubernur Solo dan Gubernur DKI Jakarta.
 7.         SATRIO PINANDITO SINISIHAN WAHYU.
 Artinya Kesatria/Pemimpin berjiwa sholeh dan religus.

Untuk kriteria calon presiden nomor ketujuh , kita belum dapat mengetahui. Dikarenakan pada masa sekarang ini , di Indonesia baru mengalami pergantian presiden dengan kriteria yang memenuhi nomor enam. Tanpa kita mempercayai sepenuhnya mitos tersebut, diharapkan kedepannya para pemimpin Indonesia akan menjadi pribadi yang di tuliskan pada nomor tujuh. Lalu dapat membawa dan membangun Indonesia kearah yang lebih baik lagi.

Referensi : http://politik.kompasiana.com/2014/03/28/mitos-pemimpin-ramalan-ronggowarsito-dalam-perjalanan-politik-indonesia-642509.html

Orasi Pembebasan Palestina



Saudara-saudaraku sekalian

Kita semua masih ingatkah dengan saudara kita, saudara kita yang jauh disana. Warga Palestina yang masih dalam kungkungan Israel, masih berada di bawah kekejaman militer Israel, masih belum merasakan yang namanya merdeka.. Bandingkan dengan kita yang kini tengah menghirup udara kebebasan, udara kemerdekaan.

Saudara-saudaraku
Bukankah kita semua hafal dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Ya, itu semua karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Serangan bertubi-tubi yang dilakukan oleh bangsa Israel bukanlah bentuk pembelaan diri sebagaimana yang diberitakan media barat. Serangan terhadap bangsa Palestina yang bertubi-tubi, merupakan tindakan kejam dan tidak berperikemanusiaan. Berbagai bangsa telah mengecam tindakan Israel atas Palestina, namun bangsa ini dengan congkaknya menampik semua kecaman itu. Apakah itu yang namanya berperikemanusiaan?

Saudara-saudaraku
Apa kita akan diam saja atas semua kekejaman ini? Apa kita akan terus diam saja melihat kebiadaban yang menjadi-jadi ini? Tentu kita tak akan tinggal diam bukan? Kami masih punya hati nurani, ingin menolong saudara kami jauh disana. Tapi, kami kini tak bisa apa-apa. Andai kami bisa berusaha membuat saudara kami bisa merasakan kebebasan sebebas-bebasnya, tentu akan kami lakukan. Tapi, kami tak bisa apa-apa. Kami hanya bisa geram atas apa yang telah dilakukan oleh militer Israel yang biadab itu. Kami geram, namun kami kesal karena tak bisa berbuat apa-apa. Kami kesal karena kami hanya bisa geram saja.

Saudara-saudaraku
Kami disini hanya bisa berteriak, menyerukan agar saudara kami di palestina bisa merasakan kebebasan seperti yang kita rasakan. Hanya itu yang kami minta, tak banyak. Kami disini berpanas terik, berteriak, hingga berbusa-busa tiada lain hanya untuk menuntut kebebasan untuk mereka.
Kami menuntut agar Palestina tak lagi tertindas seperti sekarang ini. Kami ingin hari ini menjadi hari terakhir bagi bangsa Palestina merasa kepedihan dan ketakutan, serta kesengsaraan yang amat panjang sejak bendera Israel berkibar tahun 1948 silam. Kami menuntut kemerdekaan bagi bangsa Palestina, serta Israel mengakui kedaulatan bangsa Palestina. Berbagai negara di Eropa sudah banyak yang mengusulkan kemerdekaan Palestina. Serta negara ini pun menghendaki hal itu. Kami mengharapkan kebebasan warga palestina, bukan hanya warga Muslim, warga Nasrani pun atau agama lainnya pun perlu mendapatkan kebebasan. Ini bukanlah konflik agama, ini konflik kepentingan neo-imperialisme yang harus dihapuskan dari muka bumi.
Demikian orasi yang bisa kami sampaikan. Kami akan terus menuntut kebebasan kepada warga Palestina hingga kebebasan terasa dalam setiap tarikan nafas warganya. Hidup Palestina!

- Copyright © Kanvas Alfabet - Hatsune Miku - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -